Mahasiswa KKN Kelompok 90 UNS Kenalkan Composter Rotary untuk Atasi Sampah Organik Desa Getasanyar

0

Magetan, 14 Januari 2026 – Upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus digalakkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 90 dari Universitas Sebelas Maret melalui program sosialisasi dan pelatihan penggunaan Composter Rotary di Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam membantu menyelesaikan persoalan lingkungan di tingkat desa.

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi bersama perangkat desa, diketahui bahwa sampah rumah tangga, khususnya sampah organik seperti daun kering, sisa sayuran, sisa makanan, serta kertas, masih banyak dibuang secara langsung ke pekarangan, kebun, bahkan ke aliran sungai. Kebiasaan ini memang dianggap praktis dan tidak memerlukan biaya tambahan, namun dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan, seperti penyumbatan saluran air, munculnya bau tidak sedap, hingga meningkatnya risiko pencemaran lingkungan.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN 90 menghadirkan solusi sederhana, ekonomis, dan aplikatif berupa Composter Rotary. Alat ini merupakan komposter berbentuk tabung yang dirancang dengan sistem pemutaran manual. Berbeda dengan metode kompos konvensional yang hanya ditumpuk dan dibiarkan, Composter Rotary memungkinkan proses pencampuran bahan organik berlangsung lebih merata melalui pemutaran tabung secara berkala.

Dalam kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada 14 Januari 2026, tim KKN menjelaskan secara rinci konsep dasar pengomposan serta manfaat pengolahan sampah organik bagi lingkungan dan pertanian rumah tangga. Warga juga diberikan demonstrasi langsung mengenai cara penggunaan alat. Sampah organik yang telah dipilah dimasukkan ke dalam tabung melalui lubang pengisian, kemudian tabung diputar menggunakan handle agar bahan tercampur sempurna dan mendapatkan suplai oksigen yang cukup.

Sistem sirkulasi udara yang baik di dalam tabung membuat mikroorganisme pengurai dapat bekerja secara optimal. Proses dekomposisi pun berlangsung lebih cepat dibandingkan metode kompos statis. Dalam waktu beberapa minggu, bahan organik akan berubah menjadi kompos matang yang berwarna cokelat gelap, bertekstur remah, serta tidak berbau menyengat. Kompos ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman pekarangan, kebun, maupun lahan pertanian warga.

Ketua kelompok KKN 90 menyampaikan bahwa program ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. “Kami berharap masyarakat tidak lagi melihat sampah organik sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya dalam sesi diskusi.

Adapun sejumlah manfaat penggunaan Composter Rotary antara lain mampu mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, mempercepat proses pengomposan, meminimalkan bau karena sistemnya tertutup, serta menghasilkan kompos yang lebih merata dan berkualitas. Selain itu, alat ini mudah dioperasikan, tidak membutuhkan listrik, dan cocok digunakan pada skala rumah tangga.

Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi tanya jawab dan praktik langsung. Beberapa warga menyampaikan ketertarikannya untuk menerapkan sistem pengomposan ini di rumah masing-masing. Perangkat desa pun menyambut baik program tersebut dan berharap inovasi ini dapat menjadi langkah awal pembentukan kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

Melalui program Composter Rotary ini, mahasiswa KKN 90 Universitas Sebelas Maret berharap Desa Getasanyar dapat menjadi contoh desa yang mandiri dalam pengolahan sampah organik. Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *